Aku dan teman-temanku
masih saja duduk di bangku kantin bersenda-gurau tentang apapun yang menarik
perhatian kami. Ini adalah kegiatan rutin kami setiap jam istirahat. Kami
berkumpul dan makan bersama. Membicarakan hal-hal yang menurut orang lain tidak
penting tapi menjadi sesuatu yang menggelikan ketika kami membicarakannya.
Yang aku maksud ‘kami’
adalah teman-teman seperjuanganku di tim basket sekolah. Mereka adalah Rahmi,
Jenny, Febri, Vira, Clara, Juli, dan Tika. Kami sudah berteman sejak tahun
pertama kami di sekolah ini, saat kami sama-sama mengikuti ekstrakulikuler
basket. Kami menjadi sangat dekat. Mereka seperti keluarga kedua bagiku.
“Eh, kayaknya ada yang
baru jadian nih. Ciee ciee...” ucap Rahmi.
“Apaan sih, Mi. Bikin
malu aja.” Balas Clara malu-malu.
“Kayaknya saya
ketinggalan berita deh. Kamu jadian sama siapa, Ra?” ujar Tika ingin tahu.
“Ciee Tika kepo.” Ejek
Jenny.
“Kepo itu peduli tahu.”
Balas Tika sewot.
“Jelas sama kak Reza
lah, siapa lagi coba.”
Clara pacaran sama kak Reza? Bagaimana bisa? Setahuku Rahmi juga sedang menyukai kak Reza. Mengapa kedekatan mereka tak
pernah aku sadari ya? Bagaimana bisa Rahmi dengan santainya mengejek Clara?
Siapapun pasti akan cemburu dan kecewa ketika mengetahui orang yang disukai
berpacaran dengan sahabatnya sendiri.
***
Clara, Rahmi, Jenny dan Reza sepertinya masih betah duduk di bench
tempat mereka latihan basket. Sudah sekitar 15 menit yang lalu latihan usai,
namun mereka masih betah berlama-lama di tempat itu. Mungkin yang betah hanya
Clara dan Reza, sedangkan Rahmi dan Jenny sudah gatal ingin segera pulang ke
rumah. Namun karena rasa tanggungjawab mereka terhadap Clara, mereka
membetahkan diri mereka sampai Clara dijemput oleh supirnya.
Mereka duduk sambil menonton
club lain yang juga memakai tempat latihan mereka. Kesunyian melanda mereka.
Jenny dan Rahmi sengaja duduk agak jauh dari Reza dan Clara, karena mereka
tahu bahwa pasangan itu sedang dimabuk asmara.
“Ra, kakak suka sama
Clara. Clara mau gak jadi pacar kakak?” ucap Reza memecahkan keheningan.
Jenny diam-diam menguping pembicaraan mereka. Sedangkan Rahmi sengaja menulikan
telinganya, tak ingin mendengar pembicaraan pasangan itu.
“Kakak suka sama Clara?
Beneran?” Clara balas bertanya. Mungkin dia kaget, tidak percaya bahwa orang
yang dia sukai juga menyukai dirinya.
“Iya, gimana? Clara mau
jadi pacar kakak gak?” jawab Reza tak sabaran.
“Clara mau, Kak. Clara
juga suka sama Kakak.” Jawab Clara malu-malu.
“Yess!!” Reza
kegirangan.
Rahmi hanya mampu
menahan perasaannya. Bagaimana pun juga Clara adalah sahabatnya. Dan Reza pun
hanya menyukai Clara sepertinya. Tak ada yang bisa Rahmi lakukan selain ikut
berbahagia untuk sahabatnya.
***
Rahmi adalah seorang
gadis yang kuat, konyol, dan ceria. Itu yang aku lihat di dalam dirinya. Tapi
sekuat apapun seorang gadis, pasti akan rapuh juga. Apalagi bersangkutan dengan
seorang yang disukainya. Gadis mana yang tidak akan sakit hati dan kecewa
melihat orang yang disukai malah berpacaran dengan sahabatnya sendiri.
To : Basket Rahmi
Sent : 04/06/2013 13:30
pm
Mi, kamu gak papa kan?
Ini adalah sms yang
terkonyol yang pernah aku kirimkan ke Rahmi. Apa maksudnya dengan ‘tidak apa-apa’ sedangkan aku tahu bahwa
dia sedang ‘ada apa-apa’. Bodohnya
aku.
From : Basket Rahmi
Received : 04/06/2013
13:32 pm
Maksudnya? Emang saya
kenapa?
To : Basket Rahmi
Sent : 04/06/2013 13:33
pm
Maksudnya tentang Clara
dan kak Reza. Kamu gak papa?
From : Basket Rahmi
Received : 04/06/2013
13:35 pm
Oh itu. Ya, gak papalah
Terbukti
kan? Aku benar-benar bodoh. Hei, bukannya aku sendiri yang mengatakan Rahmi
adalah gadis yang kuat? Seorang gadis yang kuat biasanya tidak akan mau
menunjukkann bahwa dia sedang rapuh kepada siapapun. Tak terkecuali
sahabat-sahabatnya. Harus dicatat sepertinya.
From
: Basket Rahmi
Received
: 04/06/2013 13:36
Saya
beneran gak papa. Jangan khawatir. Saya gak mau persahabatan yang sudah susah
payah kita bangun jadi hancur cuma gara-gara cowok. Rada gak elit kali
persahabatan kita hancur Cuma karna alasan itu.
Aku
tertegun sejenak membaca sms-nya. Aku akui Rahmi benar-benar gadis yang luar
biasa. Aku tak menyangka gadis ini sangat memikirkan persahabatan kami,
walaupun perasaannya jadi taruhan. Aku salut dengan motonya “Persahabatan itu tetap nomor 1”. Apapun
yang terjadi, bagaimana pun keadaannya, persahabatan kami adalah nomor 1. Tak
ada yang bisa menggantikannya.
-THE END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar