Senin, 11 Februari 2013

[Fiction] Life Must Go On


Sore biasa di hari yang biasa, para pasangan muda-mudi nampak berjalan dengan mesranya di taman ini. Mereka bersendau-gurau sambil menikmati indahnya sore ini dan romantisnya taman ini. Tahukah kalian? Sejatinya tidak ada hari biasa, tiap hari adalah hari yang istimewa.

Berbeda dengan pasangan lainnya yang sangat romantis, pasangan ini tampak diliputi ketegangan.
“Kak, Ara pengen putus sama kakak.” ujar gadis itu takut.
Lho kok gitu, Ra? Kamu udah bosen sama kakak?” ucap lawan bicara gadis itu.

Gadis itu memilih diam. Pasangannya masih asik memandang gadis itu dengan sorot mata yang tajam, mencari setitik kebohongan di mata gadis polos itu. Sayang, dia tidak menemukan kebohongan sedikit pun. Dia menarik napas panjang.

“Ra, bilang sama kakak apa salah kakak sampai kamu mau putus dari kakak. Kamu masih marah gara-gara kakak upload foto kakak sama mantan kakak itu? Kan waktu itu kakak udah jelasin ke Ara.” ucapnya putus asa.

Ara-gadis itu-- masih bungkam. Ara memang sangat marah waktu ‘sang kakak’ meng-upload fotonya dengan sang mantan yang mencium pipinya di bawah menara Eiffel itu. Sekarang mungkin masih sedikit marah, namun bukan itu penyebab Ara ingin putus dengannya.

“Dek?”
Ara masih berkutat pada kata-kata yang akan dirangkainya menjadi kalimat yang baik dan lembut, yang tidak akan mampu menyakiti hati ‘sang kakak’.

“Ya udah deh, terserah Ara. Kakak gak mau maksa Ara.”
Terserah lagi. Berapa kali coba Kak Kris bilang terserah selama 5 bulan ini? Ara merengut kesal lantaran kak Kris nya menyebut kata ‘terserah’ yang merupakan kata terkutuk yang Ara sering dengar dari kakak tersayangnya. Ara menghela napas.

“Maafin Ara, kak.” sesal Ara.
“Sebenarnya kakak butuh Ara banget. Ara itu sebagian hidup kakak. Kakak gak tau gimana kakak tanpa Ara. Kakak sayang Ara.” ujar Kris.

Ara terdiam. Segitu berartinyakah dirinya buat Kris? Apa benar Kris sayang sama dia? Ara merasa bersalah. Dia tak ingin menyakiti Kris, tapi dia tak bisa kembali pada Kris lagi. Kris sudah banyak membuatnya sakit hati, terutama masalah foto itu.
 
Ara tak habis pikir dengan Kris. Kris masih berstatus pacar Ara waktu itu, tapi kenapa dengan beraninya Kris meng-upload fotonya dengan mantan pacarnya di menara Eiffel itu? Apa Kris sengaja membuat Ara cemburu? Atau memang Kris memang masih menyayangi mantannya itu? Bila begitu, mengapa Kris malah memacari Ara?

Tanpa sadar, Kris ternyata sudah meninggalkannya. Ara berdiri dan dengan langkah gontai Ara berjalan ke rumahnya.

Sebulan sudah Ara dan Kris putus. Sudah sebulan pula Kris benar-benar hilang dari kehidupan Ara. Ntah kemana perginya Kris. BBM, nomor ponsel, WhatsApp sampai twitternya sudah tak bisa dihubungi lagi. Sudah berkali-kali Ara mencoba menghubungi semua kontak Kris, sayang hasilnya nihil. Hati kecil Ara khawatir. Sedih dan rindu bercampur jadi satu.

Sebenarnya Ara masih sangat menyayangi Kris, penyesalan selalu datang ketika Ara mengingat perlakuan Kris selama berpacaran dengannya. Ya, setelah kejadian itu hanya ada keceriaan palsu di wajah Ara. Sering kali Ara terlihat murung dan menangis di kamarnya ketika Ara sedang merenung. Dia merasa menyesal.

Namun akhirnya Ara sadar, dia tak boleh terus-terusan menyesali hal yang sudah terjadi. Hidupnya harus berlanjut. Ara mulai aktif di sekolah maupun di ekskul basketnya. Ara mulai memaksa dirinya untuk latihan basket dengan keras dan memperbanyak berkumpul bersama teman-teman dan keluarganya. Jadwal les pun tak segan-segan Ara tambahkan. Hasilnya, ya sesekali menangis tidak masalah kan?
  
 
“Jia sayang, Ara sayang deh sama Jia.”
Ara mengedipkan matanya dengan centil ke arah Jia. Jia adalah sahabat Ara. Dari SMP mereka sudah berteman baik. Jia selalu ikut membantu Ara dalam setiap masalahnya.

To the point aja, Ra. Lo mau apa?” ucap Jia malas.
“Nyalin PR kimia dong hehe” jawab Ara cengengesan.
“Kebiasaan deh lo, Ra. Apa lagi alasan lo gak kerjain PR? Ketiduran atau nangisin Kak Kris lagi?” balas Jia galak.
“Apaan sih. Jadi mau minjemin gak nih?” ucap Ara sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kapan sih gue bisa nolak lo mbak Ara yang manis?” jawab Jia malas.

Ara bersorak gembira. Dengan cekatan Ara menyalin tugas Jia. Sedangkan Jia duduk di samping Ara sambil memainkan Blackberry-nya.
“Ra, kemarin gue ketemu kak Kris.” ujar Jia cuek.
“Terus gue musti koprol gitu?” jawab Ara tak kalah cuek.
“Gue serius, Ra. Gue liat kak Kris gandeng cewek lain, mesra banget.”

Ara berhenti menulis dan melihat ke arah Jia.
“Bagus dong. Artinya dia udah move on. Life must go on kan?” jawab Ara.
Jia terdiam sesaat.

“Eh, ceweknya putih, tinggi, feminim, cantik, bohay lagi. Beda sama lo. Dekil, tomboy, rata depan belakang, hidup lagi. Pantes kak Kris cepet move on-nya” ucap Jia tanpa dosa.

“JIAAAAAAAAA...........”
Ara berteriak kencang dan melempari Jia dengan barang apapun yang ada di dekatnya. Dengan gesit Jia menghindar dari lemparan membabi-buta milik Ara dan berlari dengan sisa-sisa tertawanya.


-The End-