Saya baru ketemu panduan bikin fanfict ih. Nemu nya sih di blog SHINee Fan Fiction From ShawolIndo.
Banyak banget manfaatnya buat yg baru belajar bikin fanfiction kayak saya.
WRITE FF
BAGAIMANA MENULIS FANFIC YANG BAIK ?
Menulis adalah mengekspresikan pikiran dan perasaan
kita dalam bentuk simbol-simbol yang dimengerti orang lain : bahasa tulisan.
Karena itu tulisan kita mewakili pikiran dan perasaan kita. Menulis fanfic-pun sama
saja. Kekhususannya : fanfic mengekspresikan kesukaan, kecintaan kita akan
karya aslinya, dalam hal ini SHINee.
Kalau kita suka akan sesuatu tentu kita akan
memeliharanya dengan hati-hati. Bila kita akan memperlihatkannya pada umum,
kita akan memperlihatkan sisi terbaiknya. Demikian pula dengan fanfic. Buatlah
dengan segenap kemampuan kita (bukan berarti kita harus menjadi pengarang
profesional lho. Justru kalau kita terbiasa mengarang fanfic dengan baik,
mungkin saja suatu waktu bisa menjadi pengarang profesional, amin), pakailah
kaidah berbahasa yang apik, dan tunjukkan pada dunia bahwa Inilah kecintaanku
pada SHINee, inilah karya terbaikku.
BEBERAPA TIPS:
A. BAHASA
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini :
Hi, Parker. Nice 2 C U
White !!! Thanx 4 ur commentz
Gilee .. Gw mana bisa spt itu, tp gpp dech, yg sdh ya
sdh
Kalau kalimat-kalimat seperti itu muncul di comment
board, kesannya akrab dan hangat. Tapi coba kalau kita membaca fanfic sepanjang
10 halaman dengan kalimat-kalimat yang melulu seperti itu, penuh dengan
simbol-simbol dan singkatan. Pusing kan ?
Karena itu, tulislah dengan bahasa Indonesia (atau
Inggris) yang baik dan benar. Bukan berarti pakai bahasa kaku lho .. sering
baca novel remaja kan? Pastilah semua yang nulis fanfic pernah baca novel. Nah,
coba kalian liat karyanya Esti Kinasih atau Luna Torashingu atau Stephanie Zen
atau Ken Terate *kalau gk salah gitu kan penulisan namanya?* lihat novel
mereka, pakai bahasa semi baku kan? Enak kan bacanya? Jadi gak terlalu sesuai
dengan EYD tapi masih terkesean berbahasa Indonesia dengan benar.
Biasanya dalam FF mereka, bagian dialog atau plot di
tulis dengan bahasa normal kita kayak ‘Gak juga’, ‘ngapain lo?’, ‘biarin aja
kali’ dll lah. Sedangkan bagian paragraph negative atau semacem narasi itu baru
pake bahasa yang agak baku.
B. TANDA BACA DAN PENGATURAN PARAGRAF
Jangan lupa menggunakan tanda baca seperti semestinya. Rasanya semua juga
tahu aturan-aturannya. Misalnya pada akhir kalimat gunakanlah titik(.). Pada
percakapan gunakanlah tanda (“) di awal dan di akhir percakapan, supaya
pembacanya tidak bingung, ini kalimatnya sudah selesai apa belum ? Seperti juga
pada netiket, jangan gunakan tanda baca berlebih, seperti tanda seru atau tanda
tanya lebih dari dua sekaligus. Juga kapitalisasi yang berlebih (ingat bahwa
huruf kapital sama dengan berteriak). Banyak juga yang sering pakai tanda titik
berlebih (..) yang tidak wajar. Penggunaan titik lebih dari satu itu hal yang
wajar, benar jika si penulis menggunakan tiga titik. Yang salah ialah ketika si
penulis hanya menggunakan dua titik saja.
Tanda tiga titik atau lebih dikenal dengan sebutan “elipsis” adalah bagian
di mana si penulis menggambaran kalimat terputus-putus ataupun adanya bagian
yang dihilangkan.
Dan sebagai catatan: Jika ada bagian yang menggunakan elipsis sebagai pengakhir
kalimat, maka perlu digunakan emapt titik; tiga titik penghilang teks (elipsis)
dan satu titik untuk mengakhiri kalimat.
Antara kalimat (sesudah titik) jangan lupa beri spasi. Supaya mata
tidak lelah membacanya. Juga yang sering terlupakan, antara kalimat percakapan.
Bandingkan :
“Hyung! Hari ini kan hari ulang tahunnya Taemin,” kata Minho,
“hyung ini leader atau bukan sih?”. “O, iya,” kata Onew, lalu mencari
dompetnya.”Jangan bilang hyung gak bawa dompet,” sahut Key.
Dengan :
“Hyung! Hari ini kan hari ulang tahunnya Taemin,” kata Minho,
“hyung ini leader atau bukan sih?”
“O, iya,” kata Onew, lalu mencari dompetnya.
“Jangan bilang hyung gak bawa dompet,” sahut Minho.
Bagaimana ?
Lalu usahakan tidak membuat paragraf yang terlampau panjang.
Apalagi kalau fanfic itu font nya kurang dari 12. Kasihanilah mereka yang
berkacamata (hayo yang pake kacamata ngacung !) dan yang tidak pakai
kacamatapun akan berpotensi memakainya, kalau begini caranya.
C. SUBSTANSI
Alias
isi
Isi
? Isinya ya cerita tentang SHINee, apa lagi ?
Ada dua macam lho, di dunia fanfic.
-
CANON
Canon maksudnya fakta-fakta yang diutarakan dalam media massa.
Jadi, membuat fanfic canon, berarti taat pada pakem, pada jalur yang ada. Semua
karakter persis seperti yang diungkapkan SMEnt, demikian pula lokasi, dan
situasi. Memang agak membingungkan bila kita berpegang pada keduanya :
Entertaiment dan media massa, sebab ada fakta yang bertentangan, ya gak sih ?
-
FANON
Kalau yang ini berarti “fakta” yang tidak ada di buku, tetapi
lebih menyerupai rumor atau gosip. Sebelum konfirmasi tentang hubungan Jonghyun
dan Sekyung, (fanon) rumor yang beredar kalau Jonghyun udah punya pacar.
Setelah muncul beritanya baru lah fanon itu di nyatain sebagai canon. Ngerti
gak?
Kadang Fanon ini cuma berupa dugaan dari para bard dari
serangkaian fakta yang di ungkapin melalui media massa. Misalkan di acara Oh!
My School, Minho deket sama cewek yang namanya Eunseo dan di buatlah FF yang
berisikan kalau mereka berdua pacaran. Gitu, got it?
D. RISET
“Buat apa riset? Kita kan lagi gak nulis skirpsi? Yang penting kan
kita tahu berita-berita terbaru tentang SHINee.” Mungkin itu tanggapan kalian.
Ya, kalau kita mau nulis FF canon yang setting, tokoh, kisah dan tempatnya
sesuai dengan aslinya. Maka satu-satunya yang perlu di tambah cuma imajinasi
kita.
Tapi kalau kita sampai menyingguk lokasi lain, kayak supermarket
yang ada di kota Seoul atau halte bus atau semacamnya. Kita butuh riset untuk
kebenaran info, jadi setidaknya FF kamu ini bukan sekedar FF asalan atau gak
berinfo.
Gak usah muluk-muluk, yang kita butuhin cuma sedikit kok :
- Peta/atlas
- Ensiklopedia (Kalau gk punya bukunya bisa search online)
- sumber dari buku maupun dari web, kalau kita mau membahas
sesuatu lebih dalam (misalnya kita mau menceritakan Minho menjadi vampire,
bacalah dulu lebih jauh tentang vampire, apa penangkalnya, apa bedanya hasil
gigitan vampire asli dengan yang keturunan, dsb). Dalam hal ini maka search
engine adalah sahabat terbaik kita,
- orang-orang terdekat kita, baik di dunia nyata maupun di dunia
maya (contoh, dalam FF kamu, sang tokoh akan pergi menonton bola bersama member
SHINee di England. Kamu Tanya aja temen cowok kamu atau adik kamu yang suka
bola nama stadion dan lain lainnya.)
Semua ini bisa menjadikan fanfic kita lebih hidup, lho. Coba deh
..
Satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kamus. Kamus Bahasa
Indonesia (kalau kamu mengarang fanfic dalam bahasa Indonesia) dan Thesaurus
(kalau kamu mengarang fanfic berbahasa Inggris). Kamus penting untuk memperkaya
kosa kata kita.
Coba bayangkan, kalau dalam fanficmu, setiap percakapan diakhiri dengan : kata
Minho, kata Taemin, kata Onew, kata Jonghyun, dan seterusnya. Membosankan ?
Bandingkan jika kita menggunakan : kata, sahut, ujar, gumam, bisik, desis,
geram, teriak, dan entah apa lagi yang ada dalam perbendaharaan kata bahasa
Indonesia. Sebelumnya ada yang pernah mendengar kata : mencelos, berjengit,
kebas, jembalang, dedalu ?
Jadi perkaya-lah perbendaharaan katamu, dan fanficmu akan semakin menarik,
selama kata-kata itu digunakan dengan semestinya.
E. BETA-READER
Apakah Beta Reader itu ?
Mengapa penulis memerlukannya?
Bagaimana cara menjadi Beta Reader yang baik ?
Tujuan Beta-Reader ialah agar penulis bisa membuat cerita terbaik
yang bisa ia buat. Dengan cara menunjukkan kelemahan-kelemahan dalam cerita
itu, bagaimana cara memperbaikinya, dan ditambah lagi dengan menunjukkan
keunggulan cerita tersebut.
Istilah ‘Beta-Reader’ pada mulanya diambil dari istilah industri
software, ‘beta-tester’. Para pembuat software melakukan serangkaian pengujian
untuk software yang mereka buat, mencari kelemahan dan keunggulannya sebelum
dilempar ke pasaran. Akan tetapi pada umumnya mereka terfokus pada cara pandang
‘pembuat’. Mereka ini, para penguji pertama, diistilahkan dengan
‘alpha-tester’.
Kemudian dicari penguji dari kalangan pengguna, mereka diharapkan
menemukan kelemahan dan keunggulan software dari pengalaman menggunakannya.
Karena mereka penguji tahap kedua, maka istilahnya adalah ‘beta-tester’
Istilah ini kemudian diaplikasikan pada penulisan, khususnya
fanfic. ‘Alpha-Reader’ adalah si penulis sendiri, yang tentu saja melihat
kelemahan dan keunggulan cerita dari sudut pandangnya selaku penulis. Sedang
para pembaca selanjutnya menjadi “Beta-Reader’, mereka diharapkan dapat
menemukan kelemahan-kelemahan dan atau keunggulan yang terlewatkan oleh si
penulis, karena dilihat dari sudut pandang selaku pembaca.
Inilah sebabnya Beta-Reader diperlukan, untuk melihat dari lebih
banyak sudut pandang, kelemahan-kelemahan cerita untuk diperbaiki, dan
keunggulan cerita untuk dipertahankan bahkan ditingkatkan. Beberapa Beta-Reader
mungkin akan lebih baik daripada hanya satu, karena orang kan berbeda-beda. Ada
yang teliti pada segala macam tatacara penulisan, tanda baca, huruf kapital,
penulisan yang dipisah atau disambung, kesalahan ketik, dsb. Ada pula orang
yang lebih jeli pada kesinambungan plot cerita. Ada yang jeli pada kelemahan
dialog, ada juga yang piawai dalam melihat efisiensi bahasa (misalnya pada kata-kata
yang tak berguna yang hanya membuat kalimat menjadi panjang dan membingungkan)
.
Tapi bukan hanya kelemahan lho, yang harus disorot. Seorang
Beta-Reader harus mampu:
1. Melihat dan menunjukkan kelemahan atau kesalahan dalam
cerita dengan jelas. Jadi bukan sekedar: ‘pusing lho baca ceritamu’, tapi
lebih pada: ‘dialog dalam ceritamu kok nggak pakai tanda kutip ya ?’
2. Menunjukan bagaimana cara memperbaikinya
3. Menunjukkan keunggulan atau kelebihan cerita, dan
sebaiknya kalau bisa : cara
meningkatkannya
F. WRITER’S BLOCK
Sering kita menemukan suatu ide yang cemerlang, ‘Ting! Seperti ada
lampu yang menyala di kepala kita’. Cepat-cepat kita menuliskannya, tapi …
setelah beberapa saat kok mandeg ya ? (Menatap sedih pada file FF-ku sendiri
TT.TT).
Berikut mungkin berguna (juga untukku sendiri, hehe ..) untuk
mengatasinya.
* Pada saat kita mulai menulis, tentukan tujuannya, misalnya, FF ini akan
berakhir dengan ‘jadian’-nya Minho dengan Taemin (?). Dari awal menuju tujuan
itu buat kerangka kasarnya. Dengan demikian bila kita menemui kesulitan
meneruskan, kita bisa melihat poin-poin yang tersusun, dan mungkin akan
menimbulkan ide untuk mengembangkannya.
* Kalau kita masih mandeg pada bagian tertentu, tapi imajinasi
sudah melayang pada bagian lain, –misalnya sedang mengerjakan terusan bab 3,
tapi kok yang terbayang adalah endingnya — tunda saja dulu bab 3 itu, kerjakan
endingnya, mumpung lagi mood. Setelah itu baru balik lagi ke bab yang tadi
ditinggalkan. Daripada kita berkutat di bagian yang enggak maju-maju, sementara
ide cemerlang tentang bagian lain jadi tak tergarap ?
* Kalau masih juga mandeg, kerjakan saja hal lain. Endapkan saja
dulu FF itu, jalan-jalan kek, nonton, baca buku, masak, (makan juga boleh)
siapa tahu kita menemukan ide segar dengan cara ini ..
G. PERNAK PERNIK PENULISAN
Pedoman menulis:
* Plot is what happens in a story,
* What happens is what the characters do,
* What the characters do is determined by who they are,
* Who they are is influenced by what happens
Bingung ya ? Hoho .. maksud utamanya adalah bahwa sebuah cerita
yang baik adalah merupakan keterpaduan dari situasi dan karakter/tokoh. Apalagi
kita menulis fanfiction, berarti tokoh-tokoh dan karakternya sudah ditetapkan
oleh penulis asli (dalam hal ini JKR). Penulis yang baik tidak akan membuat
Hermione menjadi bodoh dan malas (kecuali dalam kasus amnesia ..), atau Ron
menjadi sangat rajin tanpa sebab ( biasanya Ron jadi rajin kalau ada maunya).
Hal-hal seperti itulah ..
Kesamaan ide :
‘Aku punya ide, gimana kalau Onew jadi bodyguard, terus Key jadi
supir, habis itu keduanya bla-bla-bla. Pas mau ditulis, eh .. kok ada orang
lain yang punya ide sama ya?’ Jangan kecil hati, tiap orang punya style
penulisan sendiri-sendiri. Dari gaya bahasa misalnya, ada yang suka kalimat-kalimat
panjang, ada yang pendek. Ada yang suka menuliskan dari sudut orang ke-3, ada
yang dari POV salah satu tokoh. Ada yang menulis gaya ‘real-time’ ada yang suka
pakai flashback. Ada yang suka pakai bahasa sehari-hari (not to mention ‘bahasa
gaul’, ini cuma cocok untuk ficlet, FF yang pendek. Kalau FF panjang pusing
bacanya) ada juga yang suka pakai bahasa puitis dengan berbagai pengandaiannya.
Jadi, satu ide yang persis sama bisa saja ditulis dengan gaya yang
berbeda-beda.
Contoh gampangnya, cerita dengan tema Love/Hate. Dari benci jadi
cinta atau cinta segitiga, coba perhatiin deh. Banyak banget kan FF yang
ngangkat tema itu? Tapi ada gak yang gaya nulisnya sama? Enggak kan? Nah itu,
makanya kamu harus pinter-pinter ngatur bikin yang terbaik dengan tema yang
sama.
Jadi jangan kecil hati kalau ide-mu sama dengan ide orang lain,
karena tiap individu pasti punya ciri mandiri dalam menulis .. kecuali kalau
kamu kayak Minho yang nyontek PR nya Onew.. alias? Plagiat!
Perlihatkan, jangan katakan :
Kamu mau bikin karakter Jonghyun sebagai seorang playboy? Bedain
quote ini :
Jonghyun adalah si playboy sekolah yang selalu gonta-ganti pacar
setiap minggu
Dengan
Jonghyun memperhatikan anak baru yang sedang berjalan di koridor,
gadis berambut panjang dengan paras wajah lugu sukses menarik perhatian
Jonghyun. “Hey! Jangan bilang kamu ngincer dia.” Ledek Key. “Mungkin? Hahaha.”
Taemin menyikut lengan Jonghyun. “Sica mau kamu kemanain? Baru juga jadian 3
hari yang lalu.” Sindir Taemin. “Kan cuma buat cadangan, hahaha. Kalau di tolak
ya udah, kalau di terima? Ya tinggal putusin Sica. Gampang kan?” Taemin memutar
bola mata mendengar jawaban Jonghyun.
Beda kan? Nah, FF kamu bakalan kerasa lebih hidup deh. Jadi
usahain tuh karakter tokoh tersirat bukan tersurat *halah*. Jadi biar aja
reader yang mengambil kesimpulan tentang karakter tokoh, kalau reader gak
nangkep maksud kamu? Ada 2 kemungkinan, kamu menjelaskannya kurang berhasil.
Atau si reader yang gak focus bacanya.
H. CROSSOVER
Pasti banyak dari kalian yang gak cuma nge-fans sama SHINee kan?
Pasti ada yang ngefans sama BB lain, dan mau supaya kedua BB itu bisa masuk
dalam satu FF. Boleh kok, asalkan kita bisa mencampurkannya. Walaupun ini cuma
fiksi tapi setidaknya fiksi juga harus terlihat agak logis kan? Jadi sebelum nyampurin
tokoh SHINee sama SMASH misalkan, kita harus tahu apa mereka sama-sama kenal?
Yang aku bicarain di sini SMASH Korea loh ya bukan Indon, soalnya kalau pake BB
lain pasti saling kenal.
Kalau memang kenal baru bisa di bikin dalam satu wadah FF. Bisa juga
sih kalau kedua tokoh sama-sama gak kenal, asalkan ada penggambaran logis
bagaimana antar tokoh pada akhirnya bisa saling mengenal ^^.
I. MARY SUE AND GARY/HARRY STU
Dalam sebuah FF mungkin kita ngerasa gak puas dengan tokoh canon
alias SHINee terus, masalahnya SHINee kan cowok semua. Gimana kalau mau bikin
cerita straight? Otomatis kita akan memasukan OC atau artis lain kan dalam FF
tersebut.
Misalkan kalian masukin seorang OFC nih, ceritanya dia tuh cantik,
pinter, kaya, baik apalah segala macem, terus cowok-cowok pada naksir sama dia
tapi dia cuma suka sama Onew seorang misalkan. Terus cerita berlanjut bla bla
bla tapi setelah di tilik-tilik tahu gak? Di teliti deh, ternyata karakter OFC
ini si penulisnya banget deh. Nah ini berarti FF yang di tulis sebagai tumpahan
obsesi sang penulis supaya bisa jadian sama Onew. Perwujudan mimpi yang tak
sampai, mungkin? Hohoho
Sebenernya dalam kasus ini gak apa-apa, apalagi kalau penulisnya
bisa ngarang cerita dengan halus jadinya pembaca gak ngerasa. Tapi kalau pembacanya
aja udah ngerasa sebel dan bisa menebak, “Aaaahh ini sih author nye aje yang
pingin jadian ama si Nyunyu =.=” itu berarti kita udah nyiptain tokokh Mary
Sue. Tokoh perfect sebagai tumbahan ambisi self insert sang author cewek, kalau
cowok istilahnya Gary/Harry Stu ya.
Gimana cara menghindari itu?? Stick to the canon, artinya tetap
pada kerangka baku yang ada. Jangan sampai si tokoh ciptaan kita mendominasi
cerita, apalagi sampai kerennya ngalahin SHINee -.-. Itu sih namanya ngajakin
flame war atau adu bacot sama Shawol. Hahaha
J. EDIT
Menulis itu sebenernya kegiatan paling sederhana yang dari kita
duduk di bangku playgroup juga udah di ajarin. Ya gak? Aku inget banget dulu
waktu TK pernah ikut lomba mengarang cepat setengah jam sebanyak 1 lembar folio,
eh menang juara 2 dengan tulisan acak-acakan apalagi ceritanya akakakak *ups*
Emang nulis itu sebenernya gambang, tapi ternyata gak semua orang
bisa menulis sebuah karya dengan baik dan benar. Kenapa? Karena terburu-buru.
Orang yang terbilang amatir dalam hal menulis pasti gak sabar tulisannya di
baca orang dengan sejuta mimpi bakal di terbitin. Padahal karya atau tulisan
yang baik gak bisa hanya dengan sekali tulis, semua ada prosesnya.
Dalam proses penulisan setidaknya ada 5 tahap :
- Tulis apa
aja yang ada di dalem pikiran, imajinasi, mimpi, apapun deh
- Edit
- Edit
- Edit
- Edit
Edit, berarti menyunting atau memperbaiki hasil tulisan. Kegiatan
swa-edit mesti di lakukan sang penulis itu sendiri, berulang-ulang sampai
penulis puas dengan hasilnya.
Apa aja sih yang perlu di edit?
Pertama, kesalahan ketik.
Karena terburu-buru menuangkan ide takut idenya pergi lagi,
akhirnya kadang kita suka salah ketik. Aku juga kok, kadang mengapa jadi megpa.
Terus kadang juga system spelling and grammar di ms.word mengubah beberala kata
secara otomatis kayak panci jadi panic. Nah makanya itu kita harus di baca
ulang untuk memperbaiki salah ketik itu. Karena kalau saat di publish masih ada
salah ketik itu tandanya kita kurang teliti atau bahkan gak kita baca ulang.
Kedua, pemakaian tanda baca.
Perhatikan benar kapan saatnya memakai titik atau koma, tanda seru
atau tanda tanya, koma atau titik koma, kutip dua atau kutip satu, dll.
Pemakaian tanda baca tentu sudah pernah kita pelajari di sekolah. Kalau lupa,
tinggal membuka ulang buku panduan EYD-nya.
Perhatikan
juga masalah-masalah perbahasaan yang lain, seperti pemakaian huruf kapital,
kata depan, imbuhan, apa lagi ya….? Yah, prinsipnya, jadikan kegiatan menulis
kita sebagai salah satu sarana untuk mempraktekkan bahasa Indonesia dengan baik
dan benar.
Buku
acuan perbahasaan yang bisa kita pakai:
-tentu saja buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah
-Komposisi, karya Gorys Keraf
-Buku Panduan EYD dari Pusbinbangsa
Ketiga, hubungan antar kalimat dan
paragraf
Ini sih udah jelas ya. Antar kalimat yang satu dengan yang
sesudahnya harus ada hubungan logis. Membuat hubungan antar kalimat, misalnya
dengan menggunakan kata referens, seperti: itu, ini, dia, mereka, dsb.
Kata-kata referens itu akan menjadi penunjuk yang menghubungkan satu kalimat
dengan kalimat sebelumnya.
Keempat, diksi atau pemilihan kata
Artinya memilih mana kata yang sesuai dengan konteks kalimat.
Dalam bahasa Indonesia (juga bahasa Inggris), terdapat beberapa kata yang
bersinonim. Akan tetapi, kalau ditinjau lebih jauh, tidak semua kata yang
bersinonim mempunyai arti yang persis sama, sehingga tidak selalu bisa saling
menggantikan dalam kalimat.
Mari kita lihat daftar berikut.
Melihat, menonton, memandang, menatap, memperhatikan, mengawasi,
melirik, mengerling, melotot, menjelit, mengintai, mengintip, mempunyai makna
kegiatan yang dilakukan oleh mata. Tetapi makna yang dikandung masing-masing
kata itu tidak persis sama. Contoh penggunaannya:
Lee Jinki memandangi anak laki-laki di depannya. Dia memperhatikan
rambutnya yang coklat muda, pakaiannya yang longgar, postur tubuhnya yang
kurus, profil wajahnya yang pucat, dan perilakunya yang canggung. Terlalu
canggung bahkan untuk ukuran seorang anak yang baru saja akan masuk sekolah.
Dan saat anak itu menoleh ke arahnya, Jinki berkesempatan menatap matanya yang
sembab dan lelah. Rasa penasaran menggoda hatinya untuk berkenalan.
Pada paragraf tersebut, terdapat kata-kata memandang,
memperhatikan, menoleh dan menatap. Tetapi dari konteks kalimatnya, kita dapat
merasakan bahwa artinya berbeda. Oya, kita juga perlu memperhatikan penggunaan
istilah denotatif dan konotatif, eufimisme, serta pergeseran, perluasan dan
penyempitan makna kata.
K. ALUR CERITA
Sebuah karangan bisa dikatakan sebuah cerita, bila mempunyai plot
atau alur atau bisa juga jalan cerita yang jelas dan memenuhi standart alur.
Disana ada perkenalan, konflik, dan anti klimaks, dimana hal-hal tersebut yang
menjiwai sebuah cerita.
Singkatnya, sebuah cerita seharusnya mempunyai bagian-bagian :
1. Pengantar
2. Inti cerita, yang terdiri dari:
-konflik
-klimaks
-anti klimaks
3. Penutup atau ending
Penjelasannya begini :
1. Pengantar
Biasanya bagian ini menguraikan sebuah pengenalan secara
keseluruhan, seperti pengenalan tokoh, setting cerita, dan waktu cerita itu
ada. Biasanya pada bagian ini kita belum menemukan konflik, walaupun ada yang
sudah mulai membuka konflik pada bagian pengantar, tetapi biasanya hanya
pembuka konflik, tidak langsung menciptakan konflik. contoh :
Namaku Choi Minho, aku adalah manusia, manusia biasa yang hidup
dengan segala masalah…dsb
Itu
dinamakan bagian pengantar, mengenalkan karakter tokoh, dia siapa dan ada apa
dengan dirinya. Tidak harus seperti contoh diatas sih, bisa saja kamu mulai
dengan…Pada suatu sore, di rumah nomer 4 yang terletak di kawasan Yongsan-gu,
pinggiran kota Seoul…dsb
2. Inti cerita
Kita bisa juga menyebutnya sebagai batang tubuh cerita ( kaya UUD
45 gak ? ), di bagian ini kita menemukan sebagian besar roh cerita. Karena bagaimanapun
cerita dibangun dengan konflik atau sebuah masalah untuk menarik minat pembaca,
kalau tidak ada konflik, kan tidak akan ada cerita. Betul, kan?
Inti cerita terdiri dari :
-Konflik
Pada bagian ini mulai dibangun sebuah masalah, jika kita menginginkan sebuah
cerita dimana Jonghyun susah payah mengejar seorang wanita, dibagian ini kamu
bisa memulai menggambarkan betapa susahnya Jonghyun harus mendapatkan perhatian
dari wanita tersebut. contoh : Jonghyun ingin marah rasanya, mengapa dia
selalu merasakan gadis itu tidak sungguh-sungguh memperhatikannya…dsb
-Klimaks
Kalau pada bagian konflik baru dibangun sebuah masalah, maka di bagian ini
masalah sudah terbentuk dan tercipta suatu konflik yang akan mencapai
penyelesaiannya, istilahnya kalau pertengkaran, bagian ini adalah bagian
panas-panasnya, bagian yang menarik perhatian lebih besar, dimana pembaca dan
penonton harus menahan nafas untuk mengetahui lanjutan ceritanya.
contoh : Gadis itu menggebrak mejanya, marah. ”Dia bukan pacarku !”
serunya seraya berlari menjauhi Jonghyun…dsb
-Antiklimaks
Di bagian ini cerita mulai cooling down, artinya konflik sudah dapat
diselesaikan atau bisa dibilang pada saat ini jalan keluar akan konflik mulai
terlihat, perlahan-lahan konflik tidak dipertajam dan mulai cooling
down. contoh : “Mungkin kita harus berhenti sekarang. Aku benar-benar
tidak menyukaimu Jonghyun.” Jonghyun menghela nafas berat, tersenyum lalu
mengangguk. Ia berfikir mungkin memang ini yang terbaik, mungkin gadis tersebut
memang bukan jodohnya.
3. Penutup
Pada bagian ini biasanya merupakan epilog dari cerita itu, atau
juga susananya sudah mulai nyaman dan tenang. Sama sekali tidak ada konflik dan
yang ada hanya kedamaian dan tuntasnya cerita. Untuk cerita bersambung,
biasanya untuk penutup dibuat untuk menggiring kepada cerita berikutnya.
contoh:
Acara kelulusan berjalana dengan lancar, Jonghyun tahu bahwa ia tidak akan
pernah melupakan semua yang terjadi di SMA nya. Termasuk gadis yang ia kejar
selama 2 tahun belakangan ini, tapi mungkin ia bisa bertemu gadis itu suatu
saat nanti. “Sampai jumpa semuanya. Nanti, saat kita sudah sukses jangan saling
melupakan ya! Kita harus bisa bertemu lagi di sini dan saling berbahagia atas
kesuksesan kita masing-masing!” seru Jonghyun riang di sambuat seruan setuju
teman-teman seangkatannya.
L. JENIS ALUR CERITA
Sebuah karangan dapat dikatakan cerita, entah itu cerpen ataupun
cerbung maupun novel, jika mempunyai plot atau alur cerita yang bagian-bagian
plot sudah diuraikan sebelumnya. Tanpa plot, sulit dikatakan bahwa itu sebuah
cerita. Karena sedatar apapun cerita yang kita buat, pasti mengandung konflik,
walaupun bukan konflik tajam, konflik merupakan emosi dari sebuah cerita.
Disana kita bisa paham apakah si tokoh sedih, gembira, ataupun marah. Jika
tidak ada penggambaran emosi, maka tidak tercipta karangan yang menarik. Dan
jika tidak ada konflik, apa yang menarik pembaca untuk menyimaknya ?
Plot cerita sudah diuraikan sebelumnya, bahwa paling tidak cerita
itu harus memuat pembukaan, konflik, dan penyelesaian konflik. Lebih detailnya,
memang cerita disarankan ada pembukaan yang menguraikan pengenalan cerita, lalu
penciptaan konflik, lalu klimaks yang merupakan bagian dimana konfliks jadi
sorotan utama, kemudian anti-kilmkas dimana konflik sudah mulai turun, dan penutup
dimana cerita sudah cooling down dan siap untuk diakhiri. Jika bagian dalam
karangan ada bagian-bagian tersebut, maka karangan tersebut berhak dinamakan
sebuah cerita.
Setelah kita mendapati bagian-bagian cerita tadi, maka kita bisa
lihat, ada jenis-jenis plot, atau alur cerita. Ada beberapa jenis plot
atau alur cerita, yaitu :
*ALUR MAJU (PROGRESS)
Artinya plot cerita berjalan berurut, dari pengenalan sampai
penutup. Si pengarang menguraikan cerita dimulai dari pengenalan tokoh, setting
cerita, dan waktu cerita itu terjadi. Setelah pengenalan dimulai membuka
konflik atau permasalahan, kemudian mempertajam permasalahan dan penyelesaian
masalah, semua disajikan secara berurutan.
*ALUR MUNDUR (FEEDBACK)
Artinya, cerita bisa dimulai dari konflik dahulu, baru pengenalan
kemudian penyelesaian masalah, sehingga kita terkesan membaca sebuah cerita
yang bercerita tentang masa depan sang tokoh dahulu, baru mengetahui latar
belakang sang tokoh kemudian. Bisa dibilang cerita ini adalah alur melompat,
karena langsung menuju inti cerita baru pengenalan.
*ALUR BERCAMPUR (MIX)
Artinya kedua alur tersebut bisa dipakai keduanya, ini bisa
terjadi untuk cerita bersambung atau novel. Misalnya diawal cerita sudah
melakukan pengenalan, kemudian ada konflik, lalu cerita mundur berbalik sebelum
peristiwa yang diceritakan terjadi, entah untuk melakukan pengenalan lebih jauh
atau untuk mempertajam konflik. Kita lihat pada cerita Harry Potter dan batu
bertuah, ada pengenalan pada Bab awal, lalu terjadi alur maju sampai Harry mendapatkan
surat untuk masuk ke Hogwarts. Ketika Hagrid datang untuk menjemput Harry
Potter, Hagrid sedikit menceritakan masa lalunya, ini bisa dibilang cerita
kembali ke belakang, ke waktu sebelum setting yang dipaparkan si pengarang saat
itu.
Untuk membuat cerita memang bebas kita memilih, akankah kita
memulai persoalan dahulu baru pengenalan dan penyelesaian, atau diurutkan dari
pengenalan baru ke inti masalah, bagaimana kita sebagai pengarang bisa enak
membuat cerita dan dapat dinikmati pembaca. Dan bukan berarti dengan adanya
plot cerita dan jenis-jenis alur cerita, kita jadi terbatas berekspresi. Ini
hanya dipaparkan untuk kita jadikan pedoman, apakah karangan kita layak disebut
cerita atau tidak. Karena kalau cerita tanpa adanya konflik, apa yang dapat kita
rasakan? Bukankah ketika kita membuat cerita untuk mengajak pembaca memahami
emosi yang terjadi pada cerita itu?
Lalu ada pertanyaan, apakah harus selalu ada konflik dalam sebuah
cerita ? Bisa dikatakan, konflik adalah bagian dimana sebuah cerita itu ada.
Dan konflik sendiri tidak harus tajam dengan pertengkaran atau persaingan satu
tokoh dengan tokoh utama. Konflik batin atau kesedihan tokoh utama juga
merupakan konflik. Konflik pada cerita merupakan penggambaran emosi pada cerita
tersebut, entah itu cerita drama, aksi, atau misteri. Pernah membaca cerita
Atheis karangan AA Navis ? disana lebih menggambarkan konflik batin si tokoh
agama yang tidak merasakan kedamaian dirinya dalam beragama sehingga akhirnya
memilih menjadi atheis, dan walau pada kenyataannya si tokoh mati dalam keadaan
bingung. Tidak ada konflik pertengkaran yang tajam, walaupun tidak bisa
dibilang cerita itu datar.
Atau mungkin kita masih ingat karya Siti Nurbaya, Kasih tak Sampai
nya Sutan Takdir Alisyahbana. Disana juga bukan konflik pertengkaran yang lebih
ditonjolkan, lebih pada kesedihan dua tokoh utama yang cinta mereka tidak
pernah kesampaian sampai akhir hayat mereka. Perasaan sedih kedua tokoh ini
juga merupakan konflik yang cukup tajam.
Pada intinya konflik adalah jiwa dari cerita, dimana pembaca bisa
merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh tersebut, tidak harus dengan dialog,
tetapi penuturan si pengarang yang menggambarkan rasa hati si tokoh.
contoh : Tetapi di sela-sela kesibukannya, Jonghyun tetap
mengirimkan surat untukku. Menceritakan tentang kuliahnya, tentang gadis itu
yang masih terkenang, tentang dosennya, tentang gadis itu yang sangat cantik,
tentang teman-temannya yang gila, tentang gadis itu yang masih tidak bisa di
lupakan, tentang hari-harinya, tentang kenangannya dulu dengan gadis itu.
Uraian di atas sudah menjelaskan, perasaan tokoh yang bosan selalu
mendengar cerita mengenai gadis tersebut disetiap percakapannya dengan
Jonghyun, dan perasaan bosan itu dipicu rasa cemburunya ada wanita lain
diantara keduanya.
Sekali lagi, pembagian plot dan jenis alur cerita bukan untuk
mematikan imajinasi yang ingin kita tuangkan dalam cerita. Tetapi kedua hal ini
untuk membantu pengarang agar menjaga ceritanya jangan sampai melebar ke
hal-hal yang tidak perlu (OOT ?) hingga akhirnya malah cerita itu tidak ada
endingnya atau juga membantu seorang penulis yang selalu menulis dalam mood,
sehingga ada pedoman untuk menyelesaikan ceritanya.
Misalnya kamu punya ide tentang Choi Minho yang seorang model top
akhirnya harus kalah oleh Kim Kibum, yang debutter, tetapi kamu belum ada mood
untuk menyelesaikannya dalam sekali tulis, maka kamu bisa membuat kerangka
karangan terlebih dahulu, bagaimana awalnya, mau dibuat bagaimana akhirnya dan
bagaimana merangkai plotnya. Sehingga kamu ada mood untuk melanjutkannya kamu
masih ingat apa yang ingin kamu selesaikan dalam cerita tersebut, sehingga
cerita tidak perlu melebar kemana-mana jadi mirip sinetron Tersanjung yang
tidak selesai-selesai masa tayangnya dari TK sampe aku SD kelas 3 =.= begitu (
ekstrimnya begitu <—OOT).
Sudah jelas kan, kala pembagian yang aku uraiakan diatas bukan
untuk mematikan semangat kita untuk menulis, tetapi lebih untuk menjaga jalan
cerita yang kita inginkan supaya tidak malah mematikan perasaan bosan kita
sendiri untuk menuntaskan cerita yang sudah susah payah kita bangun. Rugi kan
rasanya, ide sudah ada dikepala kita terpaksa kita hentikan penggarapannya
karena si penulis terjangkit rasa bosan terhadap karyanya sendiri ? Nah, aku
rasa cukup uraianku.
Mudah-mudahan berguna untuk kita membuat FF lebih ok dan bagus
lagi. Selamat berkarya.
Note :
Artikel ini di tulis oleh Wita dengan beberapa penyuntingan. Bagi
yang mau ngambil artikel ini mohon masukin credit dari artikel asli nya ya.
Kita gak mau di bilang sebagai pencuri soalnya ^^.
TAPI SEMOGA INI MEMBANTU YAAAA~ SELAMAT MENULIS PARA AUTHOR !!!
Source
: http://ffhp5.proboards.com/index.cgi?board=FFHP5&action=display&thread=26
Dengan tambahan oleh : Lana