Sore biasa di hari yang
biasa, para pasangan muda-mudi nampak berjalan dengan mesranya di taman ini.
Mereka bersendau-gurau sambil menikmati indahnya sore ini dan romantisnya taman
ini. Tahukah kalian? Sejatinya tidak ada hari biasa, tiap hari adalah hari yang
istimewa.
Berbeda dengan pasangan
lainnya yang sangat romantis, pasangan ini tampak diliputi ketegangan.
“Kak, Ara pengen putus
sama kakak.” ujar gadis itu takut.
“Lho kok gitu, Ra? Kamu udah bosen sama kakak?” ucap lawan bicara
gadis itu.
Gadis itu memilih diam.
Pasangannya masih asik memandang gadis itu dengan sorot mata yang tajam,
mencari setitik kebohongan di mata gadis polos itu. Sayang, dia tidak menemukan
kebohongan sedikit pun. Dia menarik napas panjang.
“Ra, bilang sama kakak
apa salah kakak sampai kamu mau putus dari kakak. Kamu masih marah gara-gara
kakak upload foto kakak sama mantan
kakak itu? Kan waktu itu kakak udah jelasin ke Ara.” ucapnya putus asa.
Ara-gadis itu-- masih
bungkam. Ara memang sangat marah waktu ‘sang kakak’ meng-upload fotonya dengan sang mantan yang mencium pipinya di bawah
menara Eiffel itu. Sekarang mungkin masih sedikit marah, namun bukan itu
penyebab Ara ingin putus dengannya.
“Dek?”
Ara masih berkutat pada
kata-kata yang akan dirangkainya menjadi kalimat yang baik dan lembut, yang
tidak akan mampu menyakiti hati ‘sang kakak’.
“Ya udah deh, terserah
Ara. Kakak gak mau maksa Ara.”
Terserah
lagi. Berapa kali coba Kak Kris bilang terserah selama 5 bulan ini? Ara
merengut kesal lantaran kak Kris nya menyebut kata ‘terserah’ yang merupakan
kata terkutuk yang Ara sering dengar dari kakak tersayangnya. Ara menghela
napas.
“Maafin Ara, kak.” sesal
Ara.
“Sebenarnya kakak butuh
Ara banget. Ara itu sebagian hidup kakak. Kakak gak tau gimana kakak tanpa Ara.
Kakak sayang Ara.” ujar Kris.
Ara terdiam. Segitu
berartinyakah dirinya buat Kris? Apa benar Kris sayang sama dia? Ara merasa
bersalah. Dia tak ingin menyakiti Kris, tapi dia tak bisa kembali pada Kris
lagi. Kris sudah banyak membuatnya sakit hati, terutama masalah foto itu.
Ara tak habis pikir
dengan Kris. Kris masih berstatus pacar Ara waktu itu, tapi kenapa dengan
beraninya Kris meng-upload fotonya
dengan mantan pacarnya di menara Eiffel itu? Apa Kris sengaja membuat Ara cemburu?
Atau memang Kris memang masih menyayangi mantannya itu? Bila begitu, mengapa
Kris malah memacari Ara?
Tanpa sadar, Kris
ternyata sudah meninggalkannya. Ara berdiri dan dengan langkah gontai Ara
berjalan ke rumahnya.
Sebulan sudah Ara dan
Kris putus. Sudah sebulan pula Kris benar-benar hilang dari kehidupan Ara. Ntah
kemana perginya Kris. BBM, nomor ponsel, WhatsApp sampai twitternya sudah tak
bisa dihubungi lagi. Sudah berkali-kali Ara mencoba menghubungi semua kontak
Kris, sayang hasilnya nihil. Hati kecil Ara khawatir. Sedih dan rindu bercampur
jadi satu.
Sebenarnya Ara masih
sangat menyayangi Kris, penyesalan selalu datang ketika Ara mengingat perlakuan
Kris selama berpacaran dengannya. Ya, setelah kejadian itu hanya ada keceriaan
palsu di wajah Ara. Sering kali Ara terlihat murung dan menangis di kamarnya
ketika Ara sedang merenung. Dia merasa menyesal.
Namun akhirnya Ara
sadar, dia tak boleh terus-terusan menyesali hal yang sudah terjadi. Hidupnya
harus berlanjut. Ara mulai aktif di sekolah maupun di ekskul basketnya. Ara
mulai memaksa dirinya untuk latihan basket dengan keras dan memperbanyak
berkumpul bersama teman-teman dan keluarganya. Jadwal les pun tak segan-segan
Ara tambahkan. Hasilnya, ya sesekali menangis tidak masalah kan?
“Jia sayang, Ara sayang
deh sama Jia.”
Ara mengedipkan matanya
dengan centil ke arah Jia. Jia adalah sahabat Ara. Dari SMP mereka sudah
berteman baik. Jia selalu ikut membantu Ara dalam setiap masalahnya.
“To the point aja, Ra. Lo mau apa?” ucap Jia malas.
“Nyalin PR kimia dong
hehe” jawab Ara cengengesan.
“Kebiasaan deh lo, Ra. Apa
lagi alasan lo gak kerjain PR? Ketiduran atau nangisin Kak Kris lagi?” balas
Jia galak.
“Apaan sih. Jadi mau
minjemin gak nih?” ucap Ara sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kapan sih gue bisa nolak
lo mbak Ara yang manis?” jawab Jia malas.
Ara bersorak gembira.
Dengan cekatan Ara menyalin tugas Jia. Sedangkan Jia duduk di samping Ara
sambil memainkan Blackberry-nya.
“Ra, kemarin gue ketemu
kak Kris.” ujar Jia cuek.
“Terus gue musti koprol
gitu?” jawab Ara tak kalah cuek.
“Gue serius, Ra. Gue
liat kak Kris gandeng cewek lain, mesra banget.”
Ara berhenti menulis
dan melihat ke arah Jia.
“Bagus dong. Artinya
dia udah move on. Life must go on kan?” jawab Ara.
Jia terdiam sesaat.
“Eh, ceweknya putih,
tinggi, feminim, cantik, bohay lagi. Beda sama lo. Dekil, tomboy, rata depan
belakang, hidup lagi. Pantes kak Kris cepet move
on-nya” ucap Jia tanpa dosa.
“JIAAAAAAAAA...........”
Ara berteriak kencang
dan melempari Jia dengan barang apapun yang ada di dekatnya. Dengan gesit Jia
menghindar dari lemparan membabi-buta milik Ara dan berlari dengan sisa-sisa
tertawanya.
-The
End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar